Jumat, 15 September 2017

Aku, Kamu, Dia, dan Mereka

Well... it has been long time I didn't open even write my story here.

Di sini aku mau cerita banyak. Terutama tentang orang-orang spesial yang selalu ada atau pun telah menggoreskan luka di hati.

First, aku mau cerita tentang seorang sahabat. Aku kenal dia udah lama. sekitar 7 tahun. Dia itu cowok. Dia baik banget. Satu-satunya orang yang aku kenal yang punya sikap baik, respek, dan tau gimana cara memperlakukan seorang wanita atau teman-teman lainnya. Nggak heran kalau dia itu punya banyak teman dan disukai. Dia pinter, selalu bisa diandalkan, dan bisa dibilang relijius juga. Aww aww aww... Nah kalian tahu kan, setiap orang pasti punya kelebihan juga punya kekurangan. Tapi aku gak mau bahas tentang kekurangan dia di sini. Dari dia aku banyak belajar, tentang perjuangan, kesabaran, dan cara bagaimana orang di dekat kita merasa nyaman.
Namanya Hashfi. Kalau aku harus mendeskripsikan tentang dia, pasti nggak akan cukup waktu dan halaman. Tapi 3 kata untuk dia: baik, lucu, tawa. Aku yakin, siapapun yang kenal dia pasti setuju dengan itu. Untuk Hashfi, makasih banyak udah mau menjadi teman baikku dan memberi tawa selama aku mengenalmu. I miss you.

Kedua, ini masih tentang seorang sahabat. Sama kayak Hashfi, udah lama aku mengenal dia, kira-kira 7 tahun. Dia nggak kalah baik sama Hashfi. Dia selalu mau denger cerita-ceritaku. Aku gak bisa deskripsi banyak tentang dia. Namanya Wibie. Tiga kata yang identik dengan Wibie, adalah: baik, lucu, dan nyinyir. Yaaps...hahaha. Dia emang suka nyinyir, tapi meskipun dia sering ngata-ngatain aku kayak tante-tante, pipi bapao, bolu kukus, tapi sumpah deh, dia itu baik banget.

Ketiga, sahabatku ini namanya Agna/Agha/Tara/Suter. Aku memanggilnya Suter. Kenal dia udah lama sejak 2009. Teman sekelas waktu SMA. Kalau sampai sekarang kira-kira udah 8 tahunan. Dari dulu kami sering banget bersama. Meskipun dia seperti anak kecil, tapi dia membuktikan dia bisa go international. Good job, dude. Akhir-akhir ini aku jarang banget kontak-kontakan sama dia. Pernah beberapa waktu lalu, pas aku lagi galau berat karena seseorang. Akhirnya aku curhat sama dia. Meskipun dia itu kayak anak-anak, tapi ketika aku curhat, dia selalu ngasih saran. Ya, dia selalu ada saat aku tanyai, atau curhati. Makasi ya Ter... Kangen juga lama gak ketemu.

Keempat, aku kenal temanku yang satu ini udah hampir 3 tahun. Mulai kenal pas memasuki dunia kerja. Namanya Aini. Tapi aku manggil dia Ainun/Cuk. Sering banget kami dulu ngedan bareng. Dia itu lucu, polos, dan grusah-grusuh. Ainun selalu dengerin curhatan aku setiap kali aku ada masalah. Asyik banget dan dia bener-bener ngerti dengan ceritaku.

Oke itu beberapa teman atau bisa sebut sahabat yang bener-bener deket dan aku berani cerita semua yang aku rasa tanpa ada tembok penghalang.
Sebetulnya masih banyak teman-temanku yang baik juga. Tapi kali ini aku mau bahas tentang dua orang laki-laki yang membuat duniaku seakan runtuh.

Pertama, sebut saja namanya Pedro, aku mengenalnya kurang lebih sudah 4 tahun. Pertama bertemu dia atau melihatnya, aku merasa darahku mengalir begitu cepat, badanku menjadi dingin seperti akutelah mengenalnya lama. Ketika aku mendeskripsikan dia, tubuhku terasa membeku. Aku pertama berpikir dia adalah lelaki baik, yang bisa menjaga hati dan perasaan seorang wanita dengan baik. Dia beberapa kali datang dan pergi sesuka hati. Datang seolah mengulurkan tangan dan menawarkan hatinya, kemudia pergi tanpa alasan untuk membenci. Begitu seterusnya. Seolah menarik ulur benang layangan. Aku kesulitan menceritakan tentang dia. Kami seolah berada di antara dua dimensi berbeda. Sulit bagiku menembus dimensinya. Saat dia mencoba mengulurkan tangannya, dan ku coba untuk meraihnya, belum sempat aku menggenggamnya, tapi dia telah menarik tangannya kembali. Kenapa setiap kali dia berikan sembilu luka di hati yang amat dalam dan menyayat. Pedro, please don't come around with your weird energy. Aku mencoba mengumpulkan puing-puing kesabaran untuk menghadapinya. Tapi, mungkin untuknya aku hanyalah fatamorgana, terlihat tapi tidak nyata. Setiap kali datang, ia selalu membawa harapan dan pergi sesuka hati meninggalkan hati yang berpuing-puing.
Satu hal yang amat sangat aku inginkan. Pedro, aku ingin bertemu langsung, lalu ku jelaskan semuanya. Aku tak peduli kau akan menerima itu atau tidak. Bukan cinta yang akan ku katakan. Tapi hal lain yang mungkin akan membuat kita sama-sama merasa tenang dalam menjalaninya.
Dia sempat berjanji padaku, ingin mengajakku menggapai puncak. Tapi aku cukup pintar untuk mengerti dan memahami maksudmu. Itu bukanlah yang kau inginkan sebetulnya. Itu hanyalah basa-basimu agar percakapan kita tak mati dan berakhir.
Pedro, dia ibarat morfin. Sekali aku meneguknya, aku telah kecanduan. Lalu dia pergi tanpa memberikan penawar candu itu. Hingga aku kesakitan. Dia datang, menawarkan candu lagi, aku menerimanya meski aku tahu aku akan kecanduan dan sakau.


Kedua, sebut saja Sergio, awalnya tidak ada keseriusan. Dan sampai sekarang pun aku juga tidak merasa spesial tentang Sergio. Kisah ini bisa dibilang lucu. Kalau kalian tahu, bibirku itu emang licin banget alias pereeeuzzz. Aku gak segan memberikan pujian kepada siapapun. Ketika aku memberikan pujian pada Sergio, dia menganggapnya serius. Hingga dia tergila-gila padaku. Aku tak bermaksud memberikan cinta atau apapun itu kepadanya. Dia telah teracuni oleh cintaku. Racun itu telah merasuk ke hatinya. Sampai dia kehilangan akal warasnya.


*** bersambung***

Rabu, 26 April 2017

Sorry, I didn't mean

Lama gak nulis. Hehe. Lupa pasword, jadi mau nulis males. Ya udah sih, karena lagi galau akut (hhmm bukan galau sih tepatnnya) sebut aja tengsin, ya udah deh, coba buat ngutek2 blog lagi, gimana caranya biar bisa masuk. Buat curhat. huhu.

Oke, jadi ceritanya gini. Aku tuh kan kepo banget, penasaran tingkat akut. Terus ya udah lahlangsung aja tanpa basa basi buka deh akun si desek. Eeeeh gak sengaja nih jari telunjuk menyentuh simbol hati. Bhhhh tengsin banget gue. Mau gue balik gak jadi ngelike, tapikan gak lucuk, gimana kalo pas desek lagi online, atau pas pegang hp gitu. Kan keliatan banget gue nyetalk parah.

Nah abis itu, gue buat dong story, kok ya si desek liat biasanya aja kagak liat. Gimana gue kagak mati gaya. Sumpah deh ya, mau taruh mana ini muka gue??? Dan yg jadi pertanyaan adalah, apa yang ada dalam pikiran desek? huhuhuhu 😭